Archive | May 2013

MAKALAH KEBBHINEKA TUNGGAL IKA-AN BANGSA INDONESIA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam memahami rasa kebihineka tunggal ika-an bangsa Indonesia.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepanya dapat lebih baik lagi.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Surabaya, 11 maret 2013

Zeti Arina

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………….. 1
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………………… 2
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………… 3
A. Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………………
B. Rumusan Masalah………………………………………………………………………………………
C. Tujuan Penulisan………………………………………………………………………………………..
D. Manfaat Penulisan………………………………………………………………………………………
BAB II KAJIAN PUSTAKA ……………………………………………………………………………….
BAB III PEMBAHASAN……………………………………………………………………………………
A. Wujud dari Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia………………………………………….
B. Peran Bhinneka Tunggal Ika sebagai faktor pembentuk identitas bangsa Indonesia…………………………………………………………………………………………….
C. cara membina bangsa Indonesia yang multikultural agar tercapai Integrasi nasional melalui semboyan Bhinneka Tunggal ika……………………..
D. BAB IV PENUTUP…………………………………………………………………………………..
A. Simpulan……………………………………………………………………………………………………
B. Saran…………………………………………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………………………

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah

Indonesia adalah negara kesatuan yang penuh dengan keragaman. Indonesia terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan, dll. Namun Indonesia mampu mepersatukan bebragai keragaman itu sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” , yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah kepercayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda.
Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesi juga ikut mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga mencerminkan kebudayaan agama tertentu. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keaneragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman budaya kelompok suku bangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradsional hingga ke modern, dan kewilayahan. Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya.
Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara paralel. Misalnya kebudayaan kraton atau kerajaan yang berdiri sejalan secara paralel dengan kebudayaan berburu meramu kelompok masyarakat tertentu. Dalam konteks kekinian dapat kita temui bagaimana kebudayaan masyarakat urban dapat berjalan paralel dengan kebudayaan rural atau pedesaan, bahkan dengan kebudayaan berburu meramu yang hidup jauh terpencil. Hubungan-hubungan antar kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam bingkai ”Bhinneka Tunggal Ika” , dimana bisa kita maknai bahwa konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu kepada keanekaragaman kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan. Didasari pula bahwa dengan jumlah kelompok sukubangsa kurang lebih 700’an sukubangsa di seluruh nusantara, dengan berbagai tipe kelompok masyarakat yang beragam, serta keragaman agamanya, pakaian adat, rumah adat kesenian adat bahkan makanan yang dimakan pun beraneka ragam. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang memiliki karakteristi yang unik ini dapat dilihat dari budaya gotong royong, teposliro, budaya menghormati orang tua (cium tangan), dan lain sebagainya.

B. Rumusan masalah
a. Bagaiman wujud dari Kebhinneka Tunggal Ika-an bangsa Indonesia ?
b. Bagaimanakah peran Bhinneka Tunggal Ika sebagai faktor pembentuk identitas bangsa Indonesia?
c. Bagaimana cara membina bangsa Indonesia yang multikultural agar tercapai Integrasi nasional melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika?
C. Tujuan penulisan
a. Mendeskripsikan wujud dari keragaman bangsa Indonesia di dalam semboyan “bhinneka tunggal ika”
b. Mendeskripsikan peranan Bhinneka Tunggal Ika sebagai faktor pembentuk identitas bangsa Indonesia
c. Mendaskripsikan cara membina bangsa Indonesia yang beranekaragam agar tercapai integrasi nasional melalui semboyan Bhinneka Tunggal ika.
D. Manfaat penulisan
a. Mengetahui apa saja wujud dari keragaman bangsa Indonesia di balik semboyan bhinneka tunggal ika
b. Mengetahui peran Bhinneka Tunggal Ika sebagai faktor pembentuk identitas bangsa Indonesia.
c. Mengetahui cara membina bangsa Indonesia yang multikultural agar tercapai integrasi nasional melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Bhinneka Tunggal Ika seperti kita pahami sebagai motto Negara, yang diangkat dari penggalan kitab Sutasoma karya besar Mpu Tantular pada jaman Kerajaan Majapahit (abad 14) secara harfiah diartikan sebagai bercerai berai tetapi satu (berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Motto ini digunakan sebagai ilustrasi dari jati diri bangsa Indonesia yang secara natural, dan sosial-kultural dibangun diatas keanekaragaman
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa yang tercantum dan menjadi bagian dari lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Sebagai semboyan bangsa, artinya Bhinneka Tunggal Ika adalah pembentuk karakter dan jati diri bangsa. Bhinneka Tunggal Ika sebagai pembentuk karakter dan jati diri bangsa ini tak lepas dari campur tangan para pendiri bangsa yang mengerti benar bahwa Indonesia yang pluralistik memiliki kebutuhan akan sebuah unsur pengikat dan jati diri bersama. Bhinneka Tunggal Ika pada dasarnya merupakan gambaran dari kesatuan geopolitik dan geobudaya di Indonesia, yang artinya terdapat keberagaman dalam agama, ide, ideologis, suku bangsa dan bahasa
Kebhinekaan Indonesia itu bukan sekedar mitos, tetapi realita yang ada di depan mata kita. Harus kita sadari bahwa pola pikir dan budaya orang Jawa itu berbeda dengan orang Minang, Papua, Dayak, Sunda dan lainnya. Elite pemimpin yang berasal dari kota-kota besar dan metropolitan bisa jadi memandang Indonesia secara global akan tetapi elite pemimpin nasional dari budaya lokal tertentu memandang Indonesia berdasarkan jiwa, perasaan dan kebiasaan lokalnya. Ini saja menunjukkan kalau cara pandang kita tentang Indonesia berbeda. Jadi tanpa kemauan untuk menerima dan menghargai kebhinekaan maka sulit untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Apa yang dilakukan oleh pendahulu bangsa ini dengan membangun kesadaran kebangsaan atau nasionalisme merupakan upaya untuk menjaga loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa.
Selama ini sifat nasionalisme kita kurang operasional atau hanya berhenti pada tataran konsep dan slogan politik. Nasionalisme bisa berfungsi sebagai pemersatu beragam suku, tetapi perlu secara operasional sehingga mampu memenuhi kebutuhan objektif setiap warga dalam suatu negara-bangsa. Tradisi dari suatu bangsa yang gagal memenuhi fungsi pemenuhan kebutuhan hidup objektif akan kehilangan peran sebagai peneguh nasionalisme. Saat ini diperlukan tafsir baru nasionalisme sebagai kesadaran kolektif di tengah pola kehidupan baru yang mengglobal dan terbuka. Batas-batas fisik negara-bangsa yang terus mencair menyebabkan kesatuan negara kepulauan seperti Indonesia sangat rentan terhadap serapan budaya global yang tidak seluruhnya sesuai tradisi negeri ini. Disamping itu realisasi otonomi daerah yang kurang tepat akan memperlemah nilai dan kesadaran kolektif kebangsaan di bawah payung nasionalisme.
Di samping itu bangsa Indonesia relatif berhasil membentuk identitas nasional. Beberapa bentukidentitas bangsa Indonesia adalah sebagai berikut: 1) Bahasa Nasional atau persatuan, bahasa Indonesia. 2) Dasar filsafat Negara yaitu pancasila. 3) Lagu kebangsaan Indonesia Raya. 4) Lambang Negara Garuda Pancasila. 5) Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika. 6) Bendera Negara Sang Merah Putih. 7) Konstitusi Negara yaitu UUD 1945. 8) Bentuk Negara kesatuan Republik Indonesia. 9) Konsep Wawasan Nusantara. 10) Kebudayaan daerah yang diterima sebagai kebudayaan nasional. Dari ke-10 identitas bangsa Indonesia tersebut akan dibahas salah satu yaitu mengenai semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang merupaka semboyan pemersatu bangsa Indonesia.
UUD Republik Indonesia menyatakan dengan tegas tentang realitas multikultural Bangsa Indonesia. Kenyataan tersebut dilukiskan di dalam lambang negara “Bhinneka Tunggal Ika.” Kebhinnekaan masyarakat dan bangsa Indonesia diakui bahkan dijadikan sebagai dasar perjuangan nasional permulaan abad ke-20.
Untuk itu integrasi nasional bangsa Indonesia pun harus diwujudkan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk karena masyarakat yang majemuk merupakan salah satu potensi sumber konflik yang menyebabkan disintegrasi bangsa. Agar identitas bangsa Indonesia di mata dunia terkenal dengan bangsa yang majemuk tetapi satu dalam keanekaragaman (suku, bahasa, agama, dll, yang berbeda-beda) semboyan Bhinneka Tunggal Ika harus diwujudkan.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Wujud dari keragaman di dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika”

Suku bangsa di Indonesia berjumlah lebih dari 100 suku bangsa. Wilayah Indonesia yang luas memengaruhi tingginya keanekaragaman bangsa Indonesia. Keragaman suku bangsa akan menentukan keragaman budaya bangsa Indonesia. Meskipun budaya bangsa kita sangat beraneka ragam, tetapi tetap satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia ”Bhinneka Tunggal Ika”, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Bhinneka Tunggal Ika mengandung makna meskipun berbeda suku, budaya, agama, dan bahasa daerah, tetapi tetap satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Keragaman tersebut berupa :

Keragaman suku bangsa di Indonesia
Di Indonesia banyak terdapat suku bangsa yang tersebar di pulau-pulauyang ada. Suku-suku bangsa tersebut di antaranya sebagai berikut :
1. Pulau Sumatra: ada suku Aceh, Batak, Karo, Mandailing, Melayu, Lampung , Komering, dan Minangkabau.
2. Pulau Jawa: ada suku Banten, Betawi, Badui, Jawa, Karimun,Madura, dan Tengger.
3. Pulau Bali: suku Bali.
4. Kepulauan Nusa Tenggara: ada suku Alor, Atoni, Adonara, Belu, Bima, Bodha,Damar, Dompu, Ende, Flores, Helong,Kupang, Larantuka, Lombok, Mambaro,dan Riung.
5. Pulau Kalimantan : ada suku Abai, Adang, Banjar, Berusu, Bulungan, Busang, Dayak, Dusun, Melanau, Murik,Punan, dan Tabuyan.
6. Pulau Sulawesi: ada suku Ampana, Bada, Bajo, Bobongko, Bugis, Gimpu, Kulawi, Lampu, Makassar, Parigi, Selayar, Toli-toli, dan Toraja.
7. Kepulauan Maluku: ada suku Aru, Buru, Galela, Kei, Loda, Moa, Seram, Tanibar, dan To Belo.
8. Pulau Papua:ada suku Asmat, Anggi, Arguni, Biak, Bintuni, Dani, Jakui, Mapia, Mimika, Moni, Muyu, Senggi, Sentani, dan Waigeo.
Perbedaan suku bangsa wajib kita hargai dan hormati. Walaupun berbeda, jangan sampai menimbulkan perpecahan di antara kita. Dengan adanya perbedaan kita tetap dapat menjalin rasa persatuan dan kesatuan. Perbedaan menjadi kekuatan karena bangsa kita adalah bangsa yang besar. Sikap menghormati dan menghargai harus diciptakan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, maupun dalam masyarakat. Persatuan dalam keragaman sangat penting untuk menciptakan kedamaian.
Budaya Indonesia
Keragaman budaya bangsa Indonesia ada yang berbentuk religi/keagamaan, kesenian, bahasa daerah, rumah adat, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, dan peralatan hidup. Budaya daerah yang beraneka ragam merupakan budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu, budaya daerah merupakan akar budaya nasional yang perlu dikembangkan dan dilestarikan.
1. Religi/Keagamaan
Upacara adat tiap suku bangsa di negara kita berbeda, termasuk upacara perkawinan, kematian, dan kelahiran yang dimilikinya. Di Bali ada upacara pembakaran mayat. Di daerah Toraja, Sulawesi Selatan ada juga upacara bagi orang yang telah meninggal, di arak ke tempat pemakamannya yang terletak di goa-goa di lereng gunung. Di daerah-daerah lain juga terdapat upacara menurut adat istiadat dan corak budaya setempat. Upacara-upacara adat sering menggunakan simbol-simbol adat, tari-tarian, dan bahasa daerah setempat sehingga menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Umpamanya, Suku Tengger di Jawa Timur terbiasa melakukan upacara Kasadha. Upacara tersebut juga disaksikan oleh wisatawan.
2. Kesenian daerah
Beberapa kesenian daerah misalnya dalam bentuk pertunjukan rakyat, lagu daerah, tarian daerah, dan alat musik tradisional merupakan bagian dari kesenian daerah yang dapat memperkaya budaya Indonesia.
a) Pertunjukan Rakyat
Di Indonesia, pertunjukan seringkali dikaitkan dengan pelaksanaan upacara. Seni pertunjukan di Indonesia memiliki ciri khas di setiap daerah dan merupakan sebuah bentuk ungkapan budaya. Ketoprak dari Jawa Tengah, Ludruk dari Jawa Timur, Topeng Cirebon dari Jawa Barat, Lenong Betawi dari DKI Jakarta, Makyong dari Kepulauan Riau, Inong Rampak dari Aceh.
b) Lagu Daerah
Setiap daerah di Indonesia memiliki lagu-lagu daerah, diantaranya:
• Aceh (NAD): Bungong Jeumpa, Piso Surit
• Sumatra Utara: Anju Ahu, Mariam Tomong
• Sumatra Barat: Ayam Den Lapeh, Kampuang Nan Jauh Di Mato
• Sumatra Selatan: Dek Sangke
• Jambi: Injit-injit Semut
• Bengkulu: Lalan Belek
• Jawa Barat: Cing Cangkeling, Manuk Dadali
• DKI Jakarta: Jali-jali, Kicir-kicir
• Jawa Tengah: Gambang Suling, Gundul Pacul
• Jawa Timur: Keraban Sape, Tandu Majeng
• Bali: Mejangeran, Putri Ayu
• Sulawesi Utara: Esa Mokan, O Ina Ni Keke
• Sulawesi Selatan: Pakarena
• Sulawesi Tengah: Tondok Kadindangku
• Kalimantan Selatan: Paris Berantai
• Kalimantan Timur: Indung-indung
• Kalimantan Barat: Cik-Cik Periok
• Kalimantan Tengah: Tumpi Wayu
• Maluku: Tanase, Oleh Sioh
• Papua: Yamko Rambe Yamko
c) Tarian Daerah
Indonesia memiliki banyak tarian yang menampilkan gerakan yang indah. Sebagian dikenal sejak berabad-abad di antara rakyat jelata, yang lainnya berkembang di istana. Tari yang berakar dari tari adat misalnya tari Pendet dari Bali. Ada juga tari yang bersumber pada seni bela diri, seperti tari Alan Ambek dari Sumatra Barat.
d) Alat Musik Daerah
Alat musik daerah digunakan untuk mengiringi tari-tarian adat dan lagu daerah. Berikut adalah gambar beberapa alat musik daerah. Gong dari Jawa Tengah, Kolintang dari Sulawesi Utara, Rebana dari DKI Jakarta, Tifa dari Papua, Ketepang dari Kalimantan, Bonang dari Jawa Timur.
e) Rumah Adat
Setiap daerah di Indonesia memiliki rumah adatnya sendiri. Rumah adat di setiap daerah memiliki ciri yang khas sesuai Provinsi (Daerah).
f) Pakaian Adat
Keanekaragamaan bangsa Indonesia termasuk di dalamnya adalah pakaian adat. Tiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki pakaian adat. Pakaian tersebut biasa dipakai pada waktu upacara-upacara adat, misalnya kematian, perkawinan, kelahiran, dan kegiatan ritual dari masing-masing suku tersebut.
B. Peran Bhinneka Tunggal Ika sebagai faktor pembentuk identitas bangsa Indonesia.
Jati diri bangsa Indonesia atau identitas bangsa Indonesia merupakan suatu yang pelik, ada yang beranggapan bahwa sebagai bangsa Indonesia harus melepaskan identitasnya yang berifat kesukuan atau keanggotaannya dalam berbagai kehidupan sosial masyarakat. Jati diri bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang telah disepakati bersama seperti cita-cita masa depan yang sama berdasarkan pengalaman sejarah baik pengalaman yang menggembirakan maupun yang pahit. Semuanya itu telah membentuk rasa solidaritas yang tinggi sebagai satu bangsa dan oleh sebab itu bertekad untuk memperbaikai masa depan yang lebih baik.
Bangsa Indonesia terdiri dari lebih dari 700 suku bangsa dengan kebudayaannya masing-masing. Itu sebabnya juga mengapa bhinneka Tunggal Ika merupakan lambang negara kita sebagaimana dicantumkan dalam pasal 36A UUD. Dari kebhinnekaan itulah ingin diwujudkan identitas Bangsa Indonesia. Dengan kata lain Bhinneka Tunggal Ika merupakan gambaran nyata dari keadaan masyarakat bangsa Indonesia yang majemuk dan ini pun dijadikan sebagai dasar perjuangan bangsa Indonesia dalam membentuk integrasi nasional.
Masalah yang dihadapi oleh bangsa masyarakat-negara yang sedang berkembang tidak hanya struktur masyarakat yang sangant majemuk secara cultural sehingga sukar menciptakan suatu identitas yang disepakati bersama, tetapi juga masyarakat-negara yang bagaimana yang hendak mereka ciptakan.
Bhinneka Tunggal Ika seperti kita pahami sebagai motto Negara, yang diangkat dari penggalan kitab Sutasoma karya besar Mpu Tantular pada jaman Kerajaan Majapahit (abad 14) secara harfiah diartikan sebagai bercerai berai tetapi satu. Motto ini digunakan sebagai ilustrasi dari jati diri bangsa Indonesia yang secara natural, dan sosial-kultural dibangun diatas keanekaragaman.
Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut diharapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berhasil mewujudkan integrasi nasional di tengah masyarakatnya yang majemuk. Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut juga diharapkan sebagai landasan atau dasar perjuangan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia agar dikenal di mata dunia sebagai bangsa yang multikulturalisme.
Oleh karena itu, masyarakat majemuk menjadikan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, demokrasi, nasionalisme, kekeluargaan, ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai ideologi nasional, sedangkan nilai-nilai lain seperti individualisme, komunisme, fasisme, dan teokrasi tidak mereka jadikan sebagai ideologi nasional karena dipandang tidak tepat dan tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat. Selain itu, masyarakat yang majemuk juga dipandang sebagai masyarakat yang rentan dengan konflik yang bisa menyebabkan disintegrasi bangsa, maka dari itu nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, demokrasi, nasionalisme, kekeluargaan yang diwujudkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar perjuangan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

C. Cara Membina Bangsa Indonesia yang Beranekaragam agar Tercapai Integrasi Nasional melalui Semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Identitas bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang perlu diwujudkan dan terus menerus berkembang atau seperti yang telah dirumuskan Bung Karno merupakan ekspresi dari roh kesatuan Indonesia, kemauan untuk bersatu dan mewujudkan sesuatu dan bermuatan yang nyata. Perwujudan identitas bangsa Indonesia tersebut jelaslah merupakan hasil proses pendidikan sejak dini dalam lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan formal dan in-formal. Menurut masykuri abdillah, salah satu persyaratan terwujudnya masyarakat modern yang demokatis adalah tewujudnya masyarakat yang menghargai kemajemukan (pluralitas) masyarakat dan bangsa serta mewujudkannya sebagai suatu keniscayaan. Kemajemukan ini merupakan Sunnatullah (hukum alam). Dilihat dari segi etnis, bahasa, agama dan sebagainya, indonesia termasuk salah satu negara yang paling majemuk di dunia. Hal ini disadari betul oleh para Founding Fathers kita, sehingga mereka merumuskan konsep pluralisme ini dengan semboyan “ Bhinneka Tunggal Ika”. Tentunya setiap bangsa ingin menonjolkan keunggulan dari identitas bangsanya terlebih-lebih dalam era globalisasi dewasa ini di mana pertemuannya antar bangsa menjadi sangat cepat dan mudah. Dalam pergaulan antar bangsa nilai-nilai yang positif dari suatu bangsa akan ikut membina perdamaian dan kehidupan yang lebih tenteram di planet bumi ini. Identitas bangsa indonesia seperti yang kita kenal sebagai bangsa yang ramah-tamah,toleran, kaya akan tradisi dari suku-suku bangsa yang Bhinneka perlu terus dikembangkan untuk kebudayaan dan perdamaian seluruh umat manusia.
Dengan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an itu berarti masyarakat Indonesia adalah plural.Dan di dalam masyarakat plural, dialog adalah keniscayaan bahkan keharusan. Sesungguhnya bicara pluralisme dan dialog antar-agama itu bukan hal baru di negeri ini. Memang isu pluralisme adalah setua usia manusia, hanya cara dan metode manusia menghadapinya yang berbeda. Jadi masyarakat yang majemuk itu haruslah mengadakan dialog agar integrasi tetap terjaga dan mereka juga harus bersatu dalam perbedaan. Prinsip bersatu dalam perbedaan (unity in diversity) merupakan salah satu identitas pembentuk bangsa. Yang dimaksudkan dengan bersatu dalam perbedaaan adalah kesetiaan warga masyarakat pada suatu lembaga yang disebut negara, atau pemerintahan yang mereka pandang dan yakini mendatangkan kehidupan yang lebih manusiawi tetapi tanpa menghilangkan keterikatan kepada suku bangsa, adat-istiadat, ras, atau agama. Setiap warga masyarakat akan memiliki kesetiaan ganda (multi loyalities) sesuai dengan porsinya. Walaupun mereka tetap memiliki keterikatan terhadap identitas kelompok, namun mereka menunjukan kesetiaan yang lebih besar pada kebersamaaan yang berwujud dalam bentuk bangsa-negara di bawah suatu pemerintahan yang berkeabsahan.
Membina identitas bangsa memerlukan upaya yang berkesinambungan serta berkaitan dengan berbagai aspek. Kedudukan seseorang sebagai warga negara Indonesia tidak mengenal diskriminasi, kehidupan bersama yang penuh toleransi dan menghindari berbagai perasaan curiga satu dengan yang lain atau tidak adanya trust di dalam kehidupan bersama, kemampuan dan keinginan untuk melihat perbedaan antar suku bukan sebagai hal yang memisahkan di dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari bahkan lebih mempererat dan mempercaya kehidupan dan kebudayaan nasional. Ini dikarenakan dalam era globalisasi sekarang ini setiap bangsa ingin menonjolkan identitas bangsanya agar lebih dikenal di mata dunia.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Wujud dari keragaman di dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika” itu bermacam-macam yaitu terdiri dari suku bangsa, selain itu terdiri dari bermacam-macam budaya diantaranya religi/keagamaan, kesenian daerah yang terdiri dari Pertunjukan Rakyat, Lagu Daerah,Tarian Daerah, Alat Musik Daerah, Rumah Adat, Pakaian Adat
Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut mempunyai peran terhadap bangsa Indonesia yaitu agar menjadi bangsa yang berhasil mewujudkan integrasi nasional di tengah masyarakatnya yang majemuk. Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut juga diharapkan sebagai landasan atau dasar perjuangan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia agar dikenal di mata dunia sebagai bangsa yang multikulturalisme.

Membina bangsa Indonesia yang multikultural memerlukan upaya yang berkesinambungan serta berkaitan dengan berbagai aspek agar tercapai Integrasi nasional melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika yaitu dengan mengadakan proses pendidikan sejak dini dalam lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan formal dan in-formal tentang Prinsip bersatu dalam perbedaan (unity in diversity) karena individu dalam masyarakat majemuk haruslah memiliki kesetiaan ganda (multi loyalities) terhadap bangsa-negaranya, mereka juga tetap memiliki keterikatan terhadap identitas kelompoknya, namun mereka menunjukan kesetiaan yang lebih besar pada bangsa Indonesia.
B. Saran
Rasa bhineka tunggal ika ini perlu diterapkan pada setiap masyarakat seluruh Indonesia ini demi menjaga keutuhan negara kesatuan republik Indonesia. Pada kenyataannya penerapan rasa bhineka tunggal ika ini kurang dilakukan oleh warga negara Indonesia, maka dari itu sangat diperlukan demi menjawab tantangan masa depan yang dapat memecah belah suatu negara.
Penjelasan yang ada di dalam makalah ini semoga dapat membantu mengaplikasikan arti dari semboyan bhineka tunggal ika ini pada setiap warga negara untuk dapat menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

DAFTAR PUSTAKA
H.A.R. Tilaar. 2007. Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta, hlmn 181.
H.A.R. Tilaar. 2007. Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta, hlmn xvii.
Dr Udin S.Winataputra,M.A. 2009. Multikulturalisme-Bhinneka Tunggal IKa dalam Perspektif Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia.

CONDITIONAL SENTENCE

Pengertian Conditional Sentences (Kalimat Pengandaian)

Conditional Sentences (Kalimat Pengandaian) adalah suatu bentuk kalimat majemuk yang dapat kita gunakan ketika kita ingin mengatakan bahwa sesuatu tersebut adalah suatu akibat atau konsekuensi yang tergantung pada situasi lainnya. Di dalamnya terdapat klausa pengandaian (IF CLAUSE) dan klausa akibat (RESULT CLAUSE). Pada bentuk conditional sentences kita menggunakan kata “if (jika)”.

Bentuk-bentuk dan Contoh Conditional Sentences:
1. True in the Present or Future. (Benar pada waktu sekarang dan masa akan datang)
2. Untrue in the Present or Future. (Tidak benar atau berlawanan dengan kenyataan pada waktu sekarang dan masa akan datang)
3. Untrue in the Past. (Tidak benar atau berlawanan dengan kenyataan pada masa lalu)
True in the Present or Future (Benar pada waktu sekarang dan masa akan datang)

Bentuk conditional sentences ini digunakan untuk mengekspresikan pengandaian dengan harapan yang dikatakan oleh si pembicara mungkin terjadi untuk masa sekarang ataupun akan datang.

Formula:

Bentuk dari “IF CLAUSE”
(klausa pengandaian) Bentuk dari “RESULT CLAUSE” (klausa akibat) Contoh Kalimat

Simple Present Tense

Simple Present Tense
Simple Future Tense
If I have enough money, I buy a new car.

If I have enough money tomorrow, I will buy a new car.

Perhatikan Contoh Kalimat berikut!

IF CLAUSE (Simple Present Tense) – RESULT CLAUSE (Simple Present Tense)

If I don’t eat breakfast, I always get hungry during class.

(Artinya: Jika saya tidak sarapan, saya selalu merasa lapar selama pelajaran di kelas)

Pada contoh kalimat di atas, RESULT CLAUSE menggunakan Simple Present Tense, fungsinya untuk mengekspresikan aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan atau situasi.
Makna pada kalimat di atas, si pembicara merasa yakin bahwa dia terbiasa merasa lapar jika dia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah.

IF CLAUSE (Simple Present Tense) – RESULT CLAUSE (Simple Future Tense)

If I don’t eat breakfast tomorrow, I will get hungry during class.

(Artinya: Jika saya tidak sarapan besok, saya akan merasa lapar selama pelajaran di kelas)

Pada contoh kalimat di atas, RESULT CLAUSE menggunakan Simple Future Tense, fungsinya untuk mengekspresikan bahwa kalimat tersebut menyangkut aktivitas tertentu atau situasi di masa yang akan datang.
Makna pada kalimat di atas, si pembicara mengetahui bahwa dia akan merasa lapar jika besok dia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah.

CATATAN:
Baik Simple Present Tense ataupun Simple Future digunakan sebagai RESULT CLAUSE (klausa akibat) adalah untuk mengekspresikan suatu ketetapan atau suatu fakta yang dapat diprediksi.

Contoh lain:
If I’m not busy, I come to your party.
If the weather is nice tomorrow, we will go on a picnic.

Untrue in the Present or Future (Tidak benar atau berlawanan dengan kenyataan pada waktu sekarang dan masa akan datang)

Bentuj conditional sentences ini digunakan apabila kita ingin menghayalkan sesuatu keadaan yang bertentangan dengan kenyataan yang ada saat ini dan masa yang akan datang. Dalam hal ini sikap pembicara agak pesimis karena kemungkinan terjadinya perbuatan tersebut hanya sedikit.

Formula:

Bentuk dari “IF CLAUSE”
(klausa pengandaian) Bentuk dari “RESULT CLAUSE” (klausa akibat) Contoh Kalimat

Simple Past Tense

Would + VERB 1 If I had enough money, I would buy a new car.

(in truth, I do not have enough money, so I will not buy a new car.)

(Kenyataannya, saya tidak punya cukup uang, jadi saya tidak akan membeli mobil baru.)

Perhatikan Contoh Kalimat berikut!

IF CLAUSE (Simple Past Tense) – RESULT CLAUSE (Would + VERB 1)

If I taught this class, I would not give tests.

(Artinya: Jika saya mengajar kelas ini, saya tidak akan memberikan tes)

Makna pada kalimat di atas: kenyataannya, si pembicara tidak mengajar kelas tersebut.

If Sam were here right now, he would help us.

(Artinya: jika Sam ada disini sekarang, dia akan menolong kita)

Makna pada kalimat di atas: kenyataannya, Sam tidak ada disana sekarang.

If I were you, I would accept this invitation.

(Artinya: Jika saya menjadi kamu, saya akan menerima undangan ini)

Makna pada kalimat di atas: kenyataannya, saya bukan kamu.

CATATAN:
Apabila klausa pengandaian (IF CLAUSE) dinyatakan dengan to be, maka yang digunakan adalah “were” untuk semua jenis subject.

Untrue in the Past (Tidak benar atau berlawanan dengan kenyataan pada masa lalu)

Bentuk conditional sentences ini digunakan apabila kita ingin membayangkan suatu kemungkinan lain dari suatu perbuatan atau peristiwa yang telah terjadi dimasa lampau. Atau dapat dikatakan bahwa bentuk ini dapat digunakan untuk menyatakan suatu keadaan atau peristiwa yang berlawanan dengan kenyataan yang sebenarnya dimasa lampau. Sikap pembicara dalam hal ini sangat menyesal terhadap perbuatan yang telah terjadi.

Formula:

Bentuk dari “IF CLAUSE”
(klaus` pengandaian) Bentuk dari “RESULT CLAUSE” (klausa akibat) Contoh Kalimat

Past Perfect Tense
Would have + VERB 3 If I had had enough money, I would have bought a new car yesterday.

(in truth, I did not have enough money, so I did not buy a new car yesterday.)

(Kenyataannya, saya tidak punya cukup uang, jadi saya tidak membeli mobil baru kemarin.)

Perhatikan Contoh Kalimat berikut!

IF CLAUSE (Past Perfect Tense) – RESULT CLAUSE ( Woul have + VERB 3)

If they had studied, they would have passed the exam.

(Artinya: jika mereka sudah belajar, mereka akan sudah lulus ujian)

Makna pada kalimat di atas: kenyataannya, mereka tidak belajar sebelumnya, dan mereka gagal atau tidak lulus dalam ujian.

If I had called sarah, she would have come here.

(Artinya: Jika saya sudah menelpon sarah, dia akan sudah datang kesini)

Makna pada kalimat di atas: kenyataannya, saya tidak menelpon sarah sebelumnya, dan sarah tidak datang kesini.

CAUSATIVE VERB

CAUSATIVE VERBS

Make, Let, Help, Have, Get
Have

Remember that Have can be used as a causative. In a causative, a person does not perform an action directly.
Have has even less force and authority than Get.

Subject + have + someone + verb word

My English teacher had us give oral report

Subject + have + something + participle

I want to have this book renewed, please

Avoid using an infinitive or an-ing form instead of a verb word after a person in a causative with Have. Avoid using a verb word or an infinitive instead of a participle after a thing in a causative with have.

Examples:

Incorrect: Tom had a tooth fill.
Correct: Tom had a tooth filled.
Incorrect: Have you had your temperature taking yet?
Correct: Have you had your temperature taken yet?
Incorrect: They had their lawyer to change their will.
Correct: They had their lawyer change their will.
Incorrect: I like they way you had the beautician done your hair.
Correct: I like the way you had the beautician do your hair.
Incorrect: We are going to have our car fix before we go to Toronto.
Correct: We are going to have our car fixed before we go to Toronto.

Get

Remember that Get can be used as a causative. In a causative, a person does not perform an action directly.
Get has less force and authority than Make.

Subject + get + someone + infinitive

Let’s get David to go with us

Subject + get + something + participle

Let’s get our car fixed first

Avoid using a verb word instead on an infinitive after a person in a causative with Get. Avoid using a verb word instead of a participle after things in a causative with Get.

Examples:

Incorrect: Do you think we can get Karen takes us to San Diego?
Correct: Do you think that we can get Karen to take us to San Diego?
Incorrect: I want to get the house paint before winter.
Correct: I want to get the house painted before winter.
Incorrect: Let’s get some of our money exchange for dollars.
Correct: Let’s get some of our money exchanged for dollars.
Incorrect: Nora got her mother’s wedding dress to alter so that it fit perfectly.
Correct: Nora got her mother’s wedding dress altered so that it fit perfectly.
Incorrect: We will have to get someone fixing the phone right away.
Correct: We will have to get someone to fix the phone right away.

Make

Remember that Make can be used as a causative. In a causative, a person does not perform an action directly. The person causes it to happen by forcing another person to do it.

Subject + make + someone + verb word

His mother made him take his medicine
Subject + make + something + verb word

I made the machine work

Avoid using an infinitive or an-ing form instead of a verb word after a person or thing in a causative with Make.

Examples:

Incorrect: She made the baby to take a nap.
Correct: She made the baby take a nap.
Incorrect: Professor Rogers didn’t make us typed up our lab reports.
Correct: Professor Rogers didn’t make us type up our lab reports.
Incorrect: Are you going to make your daughter to work part time in the store this summer?
Correct: Are you going to make your daughter work part time in the store this summer?
Incorrect: I can’t seem to make this dishwasher running.
Correct: I can’t seem to make this dishwasher run.
Incorrect: Patsy makes everyone doing his share around the house.
Correct: Patsy makes everyone do his share around the house.

Let

Remember that Let can be used as a causative. In a causative, a person does not perform an action directly. With Let, a person gives permission for another person to do it.

Subject + let + someone + verb word

His mother let him go to school

Subject + let + something + verb word

I am letting this machine cool

Avoid using an infinitive or an –ing form instead of a verb word after a person or thing in a causative with LET.
Examples:

Incorrect: Professor Baker let us to write a paper instead of taking a final exam.
Correct: Professor Baker let us write a paper instead of taking a final exam.
Incorrect: When I was learning to drive, my Dad let me using his car.
Correct: When I was learning to drive, my Dad let me use his car.
Incorrect: Would you let us the borrow your notes?
Correct: Would you let us borrow your notes?
Incorrect: Larry is so good-hearted, he lets people took advantage of him.
Correct: Larry is so good hearted, he lets people take advantage of him.
Incorrect: Don’t let that bothers you.
Correct: Don’t let that bother you.

Help

Remember that Help can be used as a causative. In accusative, a person does not perform an action directly. With Help, a person assists another person to do it.

Subject + help + someone/something + verb word/infinitive

He is helping me type my paper.
He is helping me to type my paper.

Avoid using an –ing form instead of a verb word or an infinitive after a person in a causative with Help.

Examples:

Incorrect: Her husband always helps her that she does the laundry.
Correct: Her husband always helps her do the laundry.
Or, Her husband always helps her to do the laundry.
Incorrect: Don’t you help each other the study for tests?
Correct: Don’t you help each other study for tests?
or, Don’t you help each other to study for tests?
Incorrect: My teacher helped me getting this job.
Correct: My teacher helped me get this job.
or, My teacher helped me to get this job.
Incorrect: Bob said that he would thelp our finding the place.
Correct: Bob said that he would help us find the place.
Or, Bob said that he would help us to find the place.
Incorrect: This book should help you understanding the lecture.
Correct: This book should help you understand the lecture.
Or, This book should help you to understand the lecture.

TIPE TIPE PARTAI POLITIK

Politik+di+indonesia
Menurut Haryanto, parpol dari segi komposisi dan fungsi keanggotaannya secara umum dapat dibagi mejadi dua kategori, yaitu:
1. Partai Massa, dengan ciri utamanya adalah jumlah anggota atau pendukung yang banyak. Meskipun demikian, parta jenis ini memiliki program walaupun program tersebut agak kabur dan terlampau umum. Partai jenis ini cenderung menjadi lemah apabila golongan atau kelompok yang tergabung dalam partai tersebut mempunyai keinginan untuk melaksanakan kepentingan kelompoknya. Selanjutnya, jika kepentingan kelompok tersebut tidak terakomodasi, kelompok ini akan mendirikan partai sendiri;
2. Partai Kader, kebalikan dari partai massa, partai kader mengandalkan kader-kadernya untuk loyal. Pendukung partai ini tidak sebanyak partai massa karena memang tidak mementingkan jumlah, partai kader lebih mementingkan disiplin anggotanya dan ketaatan dalam berorganisasi. Doktrin dan ideologi partai harus tetap terjamin kemurniannya. Bagi anggota yang menyeleweng, akan dipecat keanggotaannya.
(Haryanto: dalam buku suntingan Toni Adrianus Pito, Efriza, dan Kemal Fasyah; Mengenal Teori-Teori Politik. Cetakan I November 2005, Depok. Halaman 567-568)
Sedangkan tipologi berdasarkan tingkat komitmen partai terhadap ideologi dan kepentingan, menurut Ichlasul Amal terdapat lima jenis partai politik, yakni:
1. Partai Proto, adalah tipe awal partai politik sebelum mencapai tingkat perkembangan seperti dewasa ini. Ciri yang paling menonjol partai ini adalah pembedaan antara kelompok anggota atau “ins” dengan non-anggota “outs”. Selebihnya partai ini belum menunjukkan ciri sebagai partai politik dalam pengertian modern. Karena itu sesungguhnya partai ini adalah faksi yang dibentuk berdasarkan pengelompokkan ideologi masyarakat;
2. Partai Kader, merupakan perkembangan lebih lanjut dari partai proto. Keanggotaan partai ini terutama berasal dari golongan kelas menengah ke atas. Akibatnya, ideologi yang dianut partai ini adalah konservatisme ekstrim atau maksimal reformis moderat;
3. Partai Massa, muncul saat terjadi perluasan hak pilih rakyat sehingga dianggap sebagai respon politis dan organisasional bagi perluasan hak-hak pilih serta pendorong bagi perluasan lebih lanjut hak-hak pilih tersebut. Partai massa berorientasi pada pendukungnya yang luas, misalnya buruh, petani, dan kelompok agama, dan memiliki ideologi cukup jelas untuk memobilisasi massa serta mengembangkan organisasi yang cukup rapi untuk mencapai tujuan-tujuan ideologisnya;
4. Partai Diktatorial, sebenarnya merupakan sub tipe dari parti massa, tetapi meliki ideologi yang lebih kaku dan radikal. Pemimpin tertinggi partai melakukan kontrol yang sangat ketat terhadap pengurus bawahan maupun anggota partai. Rekrutmen anggota partai dilakukan secara lebih selektif daripada partai massa;
5. Partai Catch-all, merupakan gabungan dari partai kader dan partai massa. Istilah Catch-all pertama kali di kemukakan oleh Otto Kirchheimer untuk memberikan tipologi pada kecenderungan perubahan karakteristik. Catch-all dapat diartikan sebagai “menampung kelompok-kelompok sosial sebanyak mungkin untuk dijadikan anggotanya”. Tujuan utama partai ini adalah memenangkan pemilihan dengan cara menawarkan program-program dan keuntungan bagi anggotanya sebagai pengganti ideologi yang kaku
(Ichlasul Amal. Teori-teori Mutakhir Partai Politik Edisi Revisi. Penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta, 1996)
Menurut Peter Schroder, tipologi berdasarkan struktur organisasinya terbagi menjadi tiga macam yaitu;
1. Partai Para Pemuka Masyarakat, berupa gabungan yang tidak terlalu ketat, yang pada umumnya tidak dipimpin secara sentral ataupun profesional, dan yang pada kesempatan tertentu sebelum pemilihan anggota parlemen mendukung kandidat-kandidat tertentu untuk memperoleh suatu mandat;
2. Partai Massa, sebagai jawaban terhadap tuntutan sosial dalam masyarakat industrial, maka dibentuklah partai-partai yang besar dengan banyak anggota dengan tujuan utama mengumpulkan kekuatan yang cukup besar untuk dapat membuat terobosan dan mempengaruhi pemerintah dan masyarakat, serta “mempertanyakan kekuasaan”;
3. Partai Kader, partai ini muncul sebagai partai jenis baru dengan berdasar pada Lenin. Mereka dapat dikenali berdasarkan organisasinya yang ketat, juga karena mereka termasuk kader/kelompok orang terlatih yang personilnya terbatas. Mereka berpegangan pada satu ideologi tertentu, dan terus menerus melakukan pembaharuan melalui sebuah pembersihan yang berkseninambungan.

Sistem pemilihan umum

Sistem Pemilihan Umum dapat digolongkan menjadi dua macam sistem pemilihan umum yaitu:
1. Sistem pemilihan umum Proporsional
adalah bila mana pada asasnya wilayah negara dianggap sebagai satu wilayah pemilihan yang utuh dalam kenyataannya wilayah tersebut dapat terbagai atas sejumlah resor (daerah). Pemilu yang berfungsi semata-mata teknis administratif yaitu pengumpulan, penghitungan suara dan lain-lain.
Dari pernyataan diatas Indonesia lebih cocok kesistem pemilihan umum Proporsional. Karena sistem Proporsional memiliki keunggulan antara lain :
1. Lebih demokratis, karena menggunakan asas one man one vote.
2. Tidak ada suara yang hilang, karena bersifat representatif
3. Lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan distrik/ daerah
4. Kualitas wakil rakyat yang akan duduk di DPR dapat terpantau dan terseleksi denagan baik melalui sistem daftar calon.
Dibalik keuntungan diatas, terdapat juga kelemahan dari sistem ini, yaitu:
1. Kurang mendorong partai-partai untuk bekerjasama sau sama lain.
2. Cenderung mempertajam perbedaan antar partai.
3. Wakil yang dipilih punya kemungkinan tidak mewakili rakyat pemilihnya.
4. Kekuatan partai sangat bergantung pada pemimpin partai

2. Sistem pemilihan umum Distik
yaitu dimana wilayah negara dibagi atas sejumlah distik pemilihan yang jumlahnya sama dengan jumlah kursi yang direncanakan dalam lembagai perakilan rakyatnya. Dari satu distrik pemilihan hanya terdapat seorang wakil saja.
Dari pernyataan diatas Indonesia lebih cocok kesistem pemilihan umum Proporsional. Karena sistem Proporsional memiliki keunggulan antara lain :
1. Lebih demokratis, karena menggunakan asas one man one vote.
2. Tidak ada suara yang hilang, karena bersifat representatif
3. Lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan distrik/ daerah
4. Kualitas wakil rakyat yang akan duduk di DPR dapat terpantau dan terseleksi denagan baik melalui sistem daftar calon.
Dibalik keuntungan diatas, terdapat juga kelemahan dari sistem ini, yaitu:
1. Kurang mendorong partai-partai untuk bekerjasama sau sama lain.
2. Cenderung mempertajam perbedaan antar partai.
3. Wakil yang dipilih punya kemungkinan tidak mewakili rakyat pemilihnya.
4. Kekuatan partai sangat bergantung pada pemimpin partai

Macam-macam Bentuk Pemerintahan

Menurut ajaran klasik, bentuk pemerintahan dapat dibedakan atas jumlah orang yang memerintah dan sifat pemerintahannya (baca keterangan berikut), yaitu:
1. Monarkhi, akan menimbulkan Tirani
2. Aristokrasi, akan menimbulkan Oligarkhi
3. Demokrasi, akan menimbulkan Anarkhi

1. Plato
Bentuk pemerintahan pada zaman Yunani Kuno mengutamakan peninjauan ideal (filsafat). Plato mengemukakan bahwa bentuk pemerintahan dapat dibagi menjadi lima, sesuai dengan sifat tertentu manusia, yaitu:
1. Aristokrasi: kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh aristokrat (cendekiawan), sesuai dengan pikiran keadilan.
2. Timokrasi: kekuasaan pemerintahan yang dilaksanakan oleh orang-orang yang ingin mencapai kemasyhuran dan kehormatan.
3. Oligarkhi: kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh orang-orang atau golongan hartawan. Keadaan ini melahirkan milik partikelir (swasta), sehingga orang-orang miskin pun akhirnya bersatu melawan kaum hartawan dan lahirlah demokrasi.
4. Demokrasi: kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh rakyat miskin (jelata); namun kesalahan pelaksanaannya berakhir dengan anarkhi.
5. Tirani: pemerintahan oleh seorang penguasa yang sewenang-wenang. Bentuk inilah yang paling jauh dari cita-cita keadilan.
Telah dibuktikan melalui dialektika, aristokrasi merupakan bentuk pemerintahan terbaik dan bahwa prinsip keadilan yang dijalankan oleh orang-orang merdekalah yang membawa kebahagiaan.

2. Aristoteles
Menurut dia pembedaan bentuk pemerintahan dapat dilakukan dengan kriteria kuantitatif, yaitu dilihat dari jumlah orang yang memerintah:
1. Monarkhi: kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh satu orang (raja/ kaisar).
2. Aristokrasi: kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh beberapa orang (cerdik pandai)

3. Polity: kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh banyak orang dengan tujuan untuk kepentingan umum.

Aristoteles yang mengembangkan teori tersebut dari pendapat Herodotus (484-425 SM), menyatakan bahwa ketiga bentuk pemerintahan itu bersifat ideal dan bentuk metamorfosis masing-masing berturut-turut sebagai berikut: Tirani/ Diktator, Oligarkhi/ Plutokrasi, dan Okhlorasi. Pendapatnya berbeda dengan Plato. Menurut Plato, demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang ideal dan pemerosotannya berupa mobokrasi/ okhlorasi. Sedangkan Aristoteles justru menyatakan bahwa demokrasi merupakan bentuk kemerosotan polity.

Keterangan:
1. Monarkhi berasal dari kata mono yang berarti satu dan archien yang berarti memerintah. Jadi, monarkhi adalah pemerintahan oleh satu orang, yaitu raja/ kaisar.
2. Tirani adalah pemerintahan oleh seseorang untuk kepentingan dirinya sendiri.
3. Aristokrasi berasal dari kata aristoi yang berarti cerdik pandai atau bangsawan dan archien. Jadi, aristokrasi adalah pemerintahan oleh kaum cerdik pandai demi kepentingan umum.
4. Oligarkhi berasal dari kata oligoi yang berarti sedikit atau beberapa dan archien. Jadi, oligarkhi adalah pemerintahan oleh beberapa orang untuk kepentingan mereka sendiri.
5. Plutokrasi berasal dari kata plutos yang berarti kekayaan dan archien atau kratein. Jadi, plutokrasi adalah pemerintahan oleh orang-orang kaya atau untuk mencari kekayaan.
6. Polity adalah pemerintahan oleh orang banyak dengan tujuan untuk kepentingan umum. Bentuk pemerintahan ini menurut Aristoteles bisa merosot menjadi demokrasi, yaitu pemerintahan yang diselenggarakan oleh orang banyak tetapi tidak bertujuan demi kesejahteraan seluruh rakyat.
7. Mobokrasi adalah pemerintahan yang diselenggarakan oleh rakyat yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa atau tidak memahami pemerintahan.
8. Okhlorasi berasal dari kata okhloh yang berarti orang biadab, tanpa pendidikan, atau rakyat hina dan kratein. Jadi okhlorasi adalah pemerintahan yang dilaksanakan oleh orang yang biadab, tanpa pendidikan atau rakyat hina.
9. Anarkhi berasal dari kata an yang berarti tidak atau bukan dan archien. Jadi, anarkhi berarti tanpa pemerintahan/ kekuasaan. Seseorang atau sekelompok orang disebut bertindak anarkhis apabila ia atau mereka berlaku seolah-olah ia atau mereka sendirilah yang berkuasa atau menganggap kekuasaan pemerintahan yang sah tidak ada.

3. Polybios
Polybios (204-12 2 SM) adalah murid Aristoteles. Ia menyatakan bahwa bentuk pemerintahan monarkhi, oligarkhi dan demokrasi berlangsung silih berganti serupa siklus, berputar dan pada gilirannya akan kembali ke asal. Teorinya ini dikenal dengan nama Siklus Polybios.

PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

Garuda-Pancasila

Pancasila itu merupakan dasar negara Republik Indonesia. Sebagai dasar negara Pancasila dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan kenegaraan oleh pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia.

Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara berawal pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). dr. Radjiman Wedyodiningrat, selaku ketua BPUPKI pada awal sidang mengajukan suatu masalah sebagai agenda sidang. Masalah tersebut adalah tentang suatu calon rumusan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk. Kemudian tampilah dalam siding tersebut tiga orang pembicara, yaitu Mr. Muhammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno untuk memaparkan gagasannya mengenai rumusan dasar negara Indonesia merdeka.

Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. Muhammad Yamin mengemukakan pikirannya tentang dasar negara, yang terdiri dari
1) Peri Kebangsaan;
2) Peri Kemanusiaan;
3) Peri Ketuhanan;
4) Peri Kerakyatan; dan
5) Kesejahteraan Rakyat.
Setelah berpidato, Mr. Muhammad Yamin menyampaikan usulan secara tertulis mengenai rancangan Undang- Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia. Dalam rancangan UUD itu tercantum pula rumusan lima asas dasar negara sebagai berikut:
1) Ketuhanan Yang Maha Esa;
2) Kebangsaan Persatuan Indonesia;
3) Rasa Kemanusian yang Adil dan Beradab;
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan; dan
5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pada tanggal 31 Mei 1945 Prof. Dr. Mr. Soepomo tampil berpidato di hadapan sidang BPUPKI. Dalam pidatonya itu beliau menyampaikan gagasannya mengenai lima dasar negara Indonesia merdeka yang terdiri dari:
1) Persatuan;
2) Kekeluargaan;
3) Keseimbangan lahir batin;
4) Musyawarah; dan
5) Keadilan rakyat.

Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan pidatonya di hadapan sidang BPUPKI. Dalam pidato tersebut diajukan oleh Ir. Soekarno secara lisan usulan lima asas sebagai dasar Negara Indonesia yang akan dibentuk, yang terdiri dari :
1) Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia;
2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan;
3) Mufakat atau Demokrasi;
4) Kesejahteraan sosial; dan
5) Ketuhanan yang berkebudayaan.
Lima asas di atas oleh Ir. Soekarno diusulkan agar diberi nama “Pancasila”.

Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara selalu dilandasai semangat juang yang tinggi. Semangat juang tersebut tertuang dalam nilai-nilai juang sebagai berikut: Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; jiwa dan semangat merdeka; cinta tanah air dan bangsa; harga diri yang tinggi sebagai bangsa yang merdeka; pantang mundur dan tidak kenal menyerah; semangat persatuan dan kesatuan; semangat anti penjajah dan penjajahan; dan sebagainya.

Perubahan Piagam Jakarta merupakan bentuk kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila. Sikap yang ditampilkan oleh para tokoh pendiri negara pada saat merumuskan Pancasila diantaranya: menghargai perbedaan pendapat; mengutamakan kepentingan bangsa dan negara; menerima hasil keputusan bersama; dan mengutamakan persatuan dan kesatuan.

Tips memanjangkan bulu mata dengan cepat.

images 4

Ada berbagai cara alami memanjangkan bulu mata dan berikut ini saya punya cara alami memanjangkan bulu mata. Sebagian orang Pia/Wanita ada yang mengiginkan bulu mata yang panjang lentik dan hitam tebal, untuk mencapai semua itu ada berbagai cara dengan cara alami dan ada juga dengan cara instan yangmengunakan bahan kimia.
Banyak pria/wanita yang menginginkan tampil cantik di depan publik. Salah satunya dengan memanjangkan bulu mata agar terlihat cantik dan menawan. Ada juga cara lain dengan tanam bulu mata yang tersedia di salon-salon sekarang ini. Cara lainnya dengan menggunakan maskara agar bulu mata terlihat tebal dan hitam.
Cara diatas tersebut mungkin mengandung bahaya karena menggunakan bahan kimia di dalamnya. Ada juga produk kosmetik yang dapat memanjangkan bulu mata agar cepat tumbuh panjang. Tapi hal tersebut hanya berpengaruh sementara saja. Mungkin dengan cara alami kita dapat mencari solusi yang dapat mempermudah memanjangkan bulu mata.

Cara Memanjangkan Bulu Mata Dengan Kebersihan

Jangan lupa bersihkan maskara dan eyeliner sebelum tidur. Partikel kimia yang terdapat dalam alat rias mata bisa membuat bulu mata menjadi rusak jika terlalu sering dibiarkan semalaman. Hal ini yang biasanya dapat menyebabkan kerontokan pada bulu mata.

Cara Memanjangkan Bulu Mata Dengan Multivitamin E
Minum multivitamin untuk merangsang pertumbuhan bulu mata. Vitamin E, selain baik untuk kulit dan rambut, juga bisa menstimulasi pertumbuhan bulu mata. Konsumsilah vitamin E secara rutin. Bisa juga dengan minum kapsul per hari atau rajin makan kacang-kacangan dan sayuran hijau.

Cara Memanjangkan Bulu Mata Dengan Menyisir Bulu Mata

Rajin menyisir bulu mata dengan menggunakan sisir khusus untuk bulu mata. Hal ini agar bulu mata selalu bersih dan terhindar dari debu dan kotoran yang ada. Selain itu dengan selalu menyisir, bulu mata anda akan selalu rapi dan terpancing pertumbuhannya.

Cara Memanjangkan Bulu Mata Dengan Minyak Bulu Mata
Gunakan minyak waktu menyisir bulu mata. Bisa menggunakan minyak zaitun atau petroleum jelly supaya bulu mata tetap kuat dan terjaga pertumbuhannya. Gunakan car tersebut pada malam hari, dan bersihkan setelah bangun tidur esok paginya.

Semoga tips ini bermanfaat untuk anda semua.

CARA MENGHILANGKAN TAHI LALAT

Cara menghilangkan tahi lalat

GAMBAR Tahi-Lalat

Tahi lalat atau dalam bahasa jawanya biasa disebut dengan istilah andeng-andeng memanglah bisa sangat mengganggu penampilan kita. Terlebih jika tahi lalat tersebut memiliki ukuran yang cukup besar dan letaknya dibagian wajah pula, tentunya akan sangat mengganggu penampilan kita itu sih menurut saya hehe.

Sebenarnya ada banyak sekali cara yang bisa anda coba untuk mengatasi atau menghilangkan tahi lalat. Baik secara alami yang murah namun memerlukan ketlatenan maupun secara bantuan alat medis (oprasi) yang membutuhkan dana lumayan mahal.

Sebenarnya semua orang pasti memiliki andeng-andeng (tahi lalat) namun tentunya setiap tahi lalat berbeda, ada yang membuat orang terlihat manis ada pula yang malah terlihat jelek, nahhh yang jelek itulah yang harus kita perangi atau kita hilangkan.

Sebelum kita masuk kepembahasan utama yaitu Cara Menghilangkan Tahi Lalat, saya akan memberikan sedikit refrensi tentang macam-macam tahi lalat yang perlu untuk kita ketahui.

Menurut beberapa ahli atau pakar wajah dan kulit, andeng-andeng atau tahi lalat dapat dikelompokkan ke dua jenis misalnya, andeng-andeng yang memiliki sifat semakin membesar dari ukuran awalnya, atau andeng-andeng yang hanya segitu-gitu saja alias tidak tambah dan tidak menguran ukurannya.

Sebenarnya apa sajakah penyebab terjadinya tahi lalat itu? Nah mungkin anda bertanya-Tanya apakah penyebab utama munculnya tahi lalat itu???, banyak orang yang mengatakan bahwa penyebab utamanya adalah adanya flek yang timbul, flek ini terjadi karena kurang terawat atau kurang bersih wajah serta kulit kita. Namun jika saya boleh berpendapat tahi lalat timbul sejak bawaan lahir ( factor keturunan).

Setelah mengetahui sedikit jenis dan penyebab tahi lalat, maka saya akan coba memberikan solusi bagi anda yang ingin menghilangkan tahi lalat secara alami.

Bahan dan alat yang harus anda siapkan disiapkan:
• Sediakan Kapur sirih secukupnya
• Sediakan juga Sabun colek
• Katembat/ tusuk gigi
• Air
• Sendok makan
Langkah-langkah yang harus dilakukan
• Setelah anda menyiapkan kapur sirih dan sabun colek, Letakkan kedua bahan itu kedalam sendok makan. Kemudian tambahkan air dan aduk sabun colek dan kapur sirih sampai merata.
• Langkah selanjutnya ambil katembat atau tusuk gigi, yang akan kita gunakan untuk membantu mempermudah proses pengolesan, oleskan campuran sabun dan kapur ke-area wajah yang terdapat tahi lalatnya.
• Kemudian Biarkan olesan seharian atau sampai benar-benar mengering, catatan dalam proses pengeringan tahi lalat akan terasa sangat perih, jadi anda harus menahan rasa perih tersebut, jika ingin tahi lalat anda hilang.
Adanya rasa perih ini terjadi dikarenakan adanya akar-akar yang pada tahi lalat akan terangkat oleh ramuan yang kita buat tadi. Namun rasa perih ini akan hilang dengan sendirinya. Dan tentunya tahi lalat anda akan menghilang.

Setelah olesan ramuan mengering anda jangan buru-buru membasuh dengan air, namun biarkan menempel dan jatuh dengan sendirinya. Catatan penting: walaupun terasa perih namun anda tidak perlu khawatir, karena proses penghilangan tahi lalat secara alami ini tidak berbahaya dan tentunya tidak menimbulkan bekas luka.

Itulah sedikit info cara menghilangkan tahi lalat semoga bermanfaat dan bisa membantu masalah anda.